Arsip Kategori: Dunia Teknologi

Belajar Kriptografi/Enkripsi dengan CrypTool free

dari sumber sebelah… ebsoft

CrypTool 2 merupakan program gratis (Open Source) yang dikembangkan oleh tim dari University of Kassel (Jerman), termasuk juga beberapa professor menjadi tim intinya. Program ini sangat bermanfaat, terutama mahasiswa IT yang sedang mempelajari masalah atau kuliah tentang Kriptografi. Tetapi bagi pengguna umum atau praktisi komputer juga bisa bermanfaat terutama yang ingin mempelajari tentang algoritma atau metode berbagai algoritma enkripsi yang sebenarnya sudah kita gunakan sehari-hari (misalnya membuka website dengan https) atau ingin tahu dan memecahkan sendiri bagaimana pesan rahasia yang digunakan dalam masa Perang Dunia.

Beberapa fiturnya antara lain :

  • Memberikan antarmukan untuk mempelajari berbagai algoritma kriptografi, termasuk visualisasi yagn bisa diatur berbagai parameternya
  • Tampilan menggunakan antaramuka Office 2007
  • Menyediakan berbagai algoritam Cipher klasik, seperti Caesar, Enigma, Hill Cipher, M209, Solitaire, Substitution, XOR, Trasnposition dan sebagainya
  • Menyediakan berbagai algoritma Cipher modern baik Algoritma kunci Simetris (misalnya AES, DES, HC128, Camellia, RC2, RC4, Salsa20, SDES, TEA, Twofish, dan sebagainya) ataupun Algoritma Kunci Asimetris (DGK, Paillier, RSA, RSA Key Generator)
  • Beberapa algoritma atau metode dalam Stenografi, seperti penyisipan, LSB dan Permutasi
  • Berbagai algoritma fungsi Hash, seperti CRC, Keccak, MD5. PKCS, RIPEMD160, SHA, Tiger dan Whirpool
  • Menyediakan fitur Cryptanalist, atau ilmu untuk memecahkan data yang di enkripsi tanpa menggunakan kuncinya, misalnya dengan mempelajari kepadatan huruf. Disediakan berbagai metode untuk memecahkan algoritma berbagai algoritma enkripsi, seperti Caesar Analyser, Cube Attack, Enigma, IDP Analyser, Key Searcher, Solitaire Analyser, Transposition, Frequency Test, Prime Test, Factorizer dan sebagainya
  • Tersedia berbagai protokol seperti HMAC< LSFR, NLFSR, Oblivious, Coin Flipping, WEP Protokol dan sebagainya
    Berbagai perangkat simulasi seperti AN, OR, NOT, XOR, Boolean Input, Clock, Gate, Variabel Load, Splitter, Random generator, Input tet, output dan sebagainya

Daftar diatas hanya beberapa fitur yang bisa dituliskan, karena untuk masing-masing fitur diberikan berbagai fitur lebih daetail yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan sendiri. Untuk mencobanya silahkan mengunduh CrypTool 2 (58.3 MB)

Multipolar – Rindu Gawean Ini

ini merupakan perusahaan yang sempat bekerja sama dengan perusahaan lama gua. tp ini perusahaan yg paling seru, bagi yg pernah nyusup tentunya… ^_^

berikut ulasan terbarunya. menurut gua sih tambah keren dan fokus… 😄

Multipolar Garap Bisnis Cloud Computing

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
Penyedia sistem integrator TI Multipolar Technology menggandeng dua perusahaan Ramco Systems dan Qumu untuk menyediakan layanan cloud computing dengan platform software as a Services (SaaS) di Indonesia.”Melalui kolaborasi Multipolar, Ramco dan Qumu, perusahaan klien Multipolar yang mengadopsi cloud model SaaS ini dapat meningkatkan daya saing dan nilai tambahnya,” kata Presiden Direktur Multipolar Technology, Harijono Suwarno, di acara Multipolar Solutions Day 2012, Shangrila Hotel, Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Ramco Systems adalah perusahaan piranti lunak berbasis di India berfokus pada platform cloud enterprise seperti Enterprise Resources Planning (ERP), Human Capital Management (HCM) dan Enterprise Asset Management (EAM).

Sedangkan Qumu perusahaan asal California, Amerika Serikat, fokus pada penyediaan solusi lengkap Enterprise Webcasting dan Video Management.

Menurut Harijono, Multipolar terus meningkatkan kinerja di seluruh lini bisnisnya dengan dukungan teknologi, namun investasi TI seringkali menjadi kendala, sehingga diperlukan pendekatan baru untuk mengatasi hal tersebut.

Harijono menjelaskan, saat ini terdapat sebanyak 400-500 perusahaan yang menjadi klien Multipolar yang bergerak di sektor perbankan, telekomunikasi, manufaktur, pemerintahan, dan usaha kecil menengah (UKM).

“Kami berharap paling tidak 20-30 persen dari klien kami itu segera mengadopsi dua layanan Ramco dan Qumu, karena keduanya merupakan perusahaan berbasis cloud,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Multipolar Technology Jip Ivan mengatakan sudah menjadi komitmen perusahaan terus menghadirkan solusi yang bernilai tambah bagi pelanggan kami.Ramco ERP on Cloud membantu pelanggan mengotomatisasikan dan mengintegrasikan seluruh fungsi dan proses bisnisnya tanpa perlu melakukan investasi pada piranti keras, lisensi, pelatihan atau staf TI tambahan.

Solusi ini mudah digunakan, namun memiliki fitur yang lengkap, fleksibel dan dapat dikembangkan. Pelanggan bisa memilih untuk berlangganan paket ERP lengkap atau hanya modul-modul yang dibutuhkan saja, baik di cloud lokal atau cloud private di data centernya sendiri.

CEO Ramco Systems, Virender Aggarwai mengatakan, setelah sukses membuktikan layanan cloud di India, dan memasuki pasar global, saat ini siap menawarkan solusi di pasar Indonesia.

“Indonesia adalah pasar yang sudah siap dan mempunyai potensi besar di kawasan Asia Pasifik. Multipolar adalah pemain yang sudah dikenal luas di Indonesia, sehingga merupakan momentum yang tepat untuk mengembangkan pasar di sini,” kata Virender.

Solusi Qumu yang berbasis cloud memungkinkan pelanggan memiliki solusi video dengan cara yang lebih mudah, aman dan hemat biaya, serta tidak membutuhkan tim TI untuk pengelolaan perangkatnya.

Solusi ini dapat dimanfaatkan untuk pelatihan-pelatihan secara virtual sehingga menghemat biaya perjalanan, dan mudah diakses melalui PC, laptop, layar digital, smartphone dan tablet.

“Perkembangan video bisnis untuk perusahaan yang sejalan dengan pertumbuhan solusi berbasis mobile dan cloud menyediakan kesempatan besar bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan komunikasi korporasi mereka dengan solusi yang aman dan hemat biaya,” kata Vice President Qumu Asia Pacific, Mark Weaser.

Multipolar Target Rp 1,3 Triliun dari Bisnis TI

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
Sebagai perusahaan penyedia layanan TI dan sistem integrator PT Multipolar Technology berani pasang target tinggi. Anak usaha Lippo Group itu menargetkan pendapatan di akhri 2012 nanti mencapai USD 138 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun, naik 20% dibanding tahun sebelumnya USD 115 juta.”Kami optimistis target pendapatan sebesar USD 138 juta akan tercapai sejalan dengan semakin berkembangnya modul dan layanan yang ditawarkan perusahaan,” kata Presiden Direktur Multipolar Technology Harijono Suwarno di Hotel Shangrila, Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Menurut Harijono, peningkatan pendapatan tahun 2012 diharapkan bisa berlanjut pada 2013 dilatarbelakangi membaiknya iklim investasi di Tanah Air.

“Iklim investasi seperti yang terungkap dari data pemerintah sedang bagus-bagusnya, tercermin dari nilai investasi asing langsung yang terus meningkat dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Dengan peningkatan investasi asing tersebut lanjut Harjono, setidaknya akan menambah daftar perusahaan yang akan masuk ke Tanah Air yang akhirnya mendorong peningkatan kebutuhan teknologi informasi di dalam negeri.

Ia menambahkan, saat ini jumlah klien Multipolar berkisar 500 perusahaan, di mana sebanyak 75-80 persen bergerak pada jasa perbankan, 10-15 persen jasa telekomunikasi, sedangkan sisanya sekitar 10 persen perusahaan manufaktur, pemerintah dan UKM.

Pada jasa perbankan, Multipolar memberikan layanan infrastruktur piranti keras, jasa profesional meliputi modul produktivitas bisnis, manajemen informasi, entreprise risk manajemen (ERM), hingga solusi piranti lunak.

Multipolar membantu bisnis dalam berbagai aktivitas IT antara lain mengimplementasikan core banking dan layanan elektronik di perbankan, mendukung solusi komunikasi seluler bagi operator telekomunikasi.Juga menerapkan layanan informasi kesehatan bagi rumah sakit, solusi e-learning, jasa konsultasi instansi pemerintah dalam menerapkan e-government.

Selain itu, mengimplementasikan solusi bisnis untuk perusahaan sektor manufaktur, peritel, pengembang properti, serta pada entreprise architectur-based IT master plan di berbagai sektor lainnya.

“Kami memiliki infrastruktur, network, dan piranti lunak dan piranti keras yang dapat diaplikasikan tidak saja pada sektor perbankan, tetapi juga manufaktur maupun bagi government,” katanya.

Salah satu layanan yang terbaru disediakan Multipolar adalah cloud computing berbasis platform Software as a Services (SaaS) dengan menggandeng dua perusahaan, Ramco dan Qumu.

Ramco Systems adalah perusahaan piranti lunak berbasis di India berfokus pada platform cloud enterprise seperti Enterprise Resources Planning (ERP), Human Capital Management (HCM) dan Enterprise Asset Management (EAM).

Sedangkan Qumu perusahaan asal California, Amerika Serikat, fokus pada penyediaan solusi lengkap Enterprise Webcasting dan Video Management.

Menurut Harijono, target awal pengguna layanan cloud computing hasil kolaborasi Multipolar, Ramco dan Qumu ini adalah perusahaan eksisting yang menjadi klien Multipolar.

“Dari sekitar 500 klien kami saat ini, diharapkan sekitar 20 persen akan mengadopsi cloud computing Multipolar,” ujarnya.

Multipolar Fokus Garap TI di 4 Sektor Industri

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
PT Multipolar Technology menandai transformasi perusahaannya menjadi penyedia layanan teknologi informasi (TI) dengan fokus menggarap empat sektor industri, yakni sektor keuangan, telekomunikasi, pemerintahan, dan layanan kesehatan.Dalam upayanya menggarap keempat sektor industri tersebut, anak perusahaan Lippo ini menggandeng sejumlah mitra global seperti IBM, Cisco, HCL, Vision Solutions, NCR, Symantec, VMware, Infosys, Oracle dan Acer.

“Teknologi saat ini bukan lagi sekedar pelengkap, namun lebih dari itu teknologi justru mempermudah pekerjaan kita,” kata Harijono Suwarno, Managing Director Multipolar Technology dalam rilis Multipolar Solutions Day 2010 yang diterima detikINET, Jumat (30/7/2010).

Menurut Harijono, transformasi Multipolar menjadi penyedia solusi TI lengkap didorong oleh dinamika di industri dan kebutuhan pelanggan yang mencari benefit dari implementasi TI. Selama beberapa tahun terakhir, peran TI semakin penting bagi bisnis, dari sekedar fungsi pendukung menjadi fungsi strategis yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif.

Tolok ukur sukses TI, lanjut dia, kini dinilai dari indikator-indikator bisnis seperti return-on-investment (ROI), return-on-asset (ROA) dan time-to-market, menandakan semakin pentingnya menyelaraskan TI dengan bisnis.

Cara pandang bisnis terhadap TI pun berubah, banyak perusahaan mulai menerapkan tata kelola IT yang baik sebagai bagian dari corporate governance, dan didorong regulasi seperti Basel II di sektor perbankan secara luas, IT governance mencakup juga IT management dan IT control.

TI kini juga mulai dilihat dalam perspektif sebagai sebuah layanan, atau IT-as-a-Service (ITaaS). Pada dasarnya, ITaaS adalah layanan alih daya yang lebih luas. ITaas tidak hanya mencakup pemeliharaan aset TI (server, peranti jaringan dan PC) tetapi juga manajemen sumber daya TI.

“Dengan TI sebagai layanan, klien perusahaan bisa fokus pada bisnis intinya,” tandas Harijono.

Teknologi yang paling buat ngiri programer

mengkin ini teknologi konsep,…

tp sangat menyenangkan bila melihat hasilnya, mungkin membuat tersyum programer sejati. bangga programnya dapat memudahkan org utk melakukan aktifitasnya dgn senang hati….

berikut konsep yang baik. 🙂

menyentuh sisi tersudut, sebut.ku

gadget yang meluaskan mata dan sentuhan… pengen.ku

seperti di film dalamnya full IT banget.. 🙂

sama seperti di atas tapi semakin memukau.. ^_^

kagum… iyah itulah expresi gua

 

by admin dari segala link informasi

Onno Purbo dan Posisi Menkominfo

Jakarta – Onno W. Purbo jelas bukan sosok yang asing di dunia teknologi informasi Indonesia. Pria yang akrab disapa Kang Onno ini telah lama berkecimpung dalam pengembangan TI Tanah Air.

Saking populernya, bahkan tak sedikit yang menyuarakan Onno layak memegang jabatan Menkominfo. Namun apakah Onno mau? Jawabannya tidak!

“Malas, jadi menteri urusannya harus ngikutin partai, harus setoran dan sebagainya. Mendingan jadi rakyat, urusannya jelas,” tukasnya sambil tergelak kala ditemui di rumahnya di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Mantan Dosen Institut Teknologi Bandung ini memang memiliki rekam jejak yang cukup cemerlang dalam perkembangan TI di Indonesia. Ia menyumbangkan pemikiran dalam berbagai program seperti RT/RW Net, wajanbolic sampai yang terakhir Open BTS.

Ia terlibat pula dalam pembebasan frekuensi 2,4 GHz sehingga diizinkan Kominfo pada tahun 2005 untuk bebas digunakan oleh publik. Kata Onno, butuh waktu 12 tahun untuk memperjuangkannya. Perjuangan ini mendapat pengakuan di World Summit on Information Society (WSIS).

Apa kira-kira misi hidup Onno? Ia mengungkapkan bahwa hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Tidak perlu jabatan atau harta yang melimpah, yang penting berguna bagi sesama.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, soal kekayaan atau jadi menteri tidak ada urusan. Pokoknya selama bermanfaat, dia semakin tinggi. Kalau ilmunya tinggi tapi tidak bermanfaat, maka nilainya turun,” tutur Onno.

‘Nilai seseorang tidak di tentukan oleh harta, kekayaan, pangkat, jabatan, gelar, tapi oleh berapa besar, banyak umat yang mendapat manfaat’. Itulah prinsip hidup Onno.

Intinya, bapak yang tengah gemar gowes ini ingin bermanfaat dengan memintarkan orang. Tak pelak, misi hidup yang dipegangnya itu pun sering membuat Onno untuk berkeliling ke berbagai daerah dan negara untuk berbagi ilmu IT.

“Masyarakat kita sebenarnya sudah pintar-pintar, tapi harus dibikin lebih pintar lagi,” ucap lelaki lulusan strata 3 dari Waterloo University di Kanada ini.

Onno pun melihat pemerintah dalam hal ini Kominfo yang membidangi ICT belum berbuat maksimal. Pekerjaan mereka dianggap baru sebatas proyek pengadaan barang, namun bukan dalam pemberdayaan masyarakat. Misalnya dalam proyek internet masuk desa, fasilitas barangnya memang ada tapi masyarakat kurang diberdayakan untuk memakainya.

“Kesalahan fatal Kominfo, urusannya pengadaan dan regulasi, tapi pemberdayaan masyarakat kurang sekali. Pola pikirnya jangan melihat bangsa ini sebagai konsumen atau user. Tolong dilihat sebagai manusia. Manusia perlu dipinterin, itu yang akan mengubah bangsa ini,” tegasnya.

Sampai saat ini, Onno aktif berkeliling untuk menyebar ilmu. Secara rutin, ia diundang pula untuk mengajar ke berbagai negara seperti Thailand, Kamboja, Vietnam sampai Myanmar. Ia juga giat aktif menulis buku. Buku terakhirnya yang sedang digarap adalah tentang teknologi Open BTS.

“Sekitar seratus halaman saja, kalau tebal-tebal nanti harganya kemahalan. Jadi harus disiasatin,” pungkasnya

Fino Yurio Kristo – detikinet.

 

Tarik 1.200 Karyawan XL, Huawei Buka Divisi Baru

Jakarta – Setelah menarik sekitar 1.200 karyawan operator seluler XL Axiata, Huawei akan semakin melebarkan sayap bisnisnya. Salah satunya dengan membuka divisi baru khusus untuk menangani jaringan.

Seperti diberitakan sebelumnya, PT Huawei Tech Investment telah mendapatkan ribuan karyawan baru dari XL. Hal ini merupakan buntut dari perjanjian kerja sama pengelolaan jaringan telekomunikasi dari kedua perusahaan tersebut.

Bukan tanpa alasan, namun Huawei mengklaim memiliki rencana besar di balik perjanjian itu. “Ribuan karyawan XL yang sekarang di Huawei itu akan masuk ke dalam divisi baru yang khusus menangani services,” kata Yunny Christine, Corporate Communication Manager Huawei Indonesia.

Perjanjian antara XL dengan Huawei akan berlangsung selama 7 tahun. Nah, setelah itu bagaimana nasib karyawan yang dipindahkan?

“Industri telekomunikasi Indonesia kan sangat dinamis, jadi ke depannya divisi tersebut pasti akan lebih besar,” tambah Yunny, di Penang Bistro, Rabu (18/1/2012).

Dengan bergabungnya ribuan karyawan XL tersebut, hingga saat ini total karyawan Huawei di Indonesia sudah mencapai lebih dari 3.000 orang.

Seperti diketahui, XL baru saja menunjuk Huawei sebagai partner pengelolaan jaringan telekomunikasi mereka untuk jangka waktu 7 tahun ke depan, terhitung sejak April 2012 hingga April 2019.

Di dalam kerjasama Managed Network Services jangka panjang tersebut juga akan disertai dengan pengalihan sekitar 1.200 karyawan XL menjadi karyawan Huawei.

“Karyawan yang dialihkan bagiannya field operation dan network operation. Kita serahkan ke pihak yang lebih ahli dan kompeten karena pengelolaanya kan disepakati dipindah ke Huawei mulai April 2012,” jelas Manager Corporate Communication XL Henry Wijaya.

XL juga memastikan para karyawan terpenuhi hak-haknya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pun, XL juga menjamin, status karyawan tidak mengalami perubahan — akan tetap berstatus pegawai tetap — sedangkan untuk pegawai kontrak/outsource diharapkan terjadi perubahan status kepegawaian menjadi lebih baik.

Selain itu, XL menjanjikan untuk memberikan penghargaan masa kerja kepada karyawan sesuai dengan peraturan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003. Dimana biaya penghargaan masa kerja ini sebagian besar di cadangan Perseroan di Q3 2011 dan akan dibayarkan pada waktunya menggunakan dana internal.

Huawei nantinya akan mengelola pengoperasian layanan jaringan bergerak 2G/3G XL termasuk Network Operations Center (NOC), Field of Operations (FOP), Network Performance Management (NPM) dan Spare Parts Management Service yang dimiliki oleh XL.

Polemik SOPA & PIPA: Apa Imbas untuk Indonesia?

jakarta – Sejumlah penggiat layanan internet dunia, seperti Google hingga Wikipedia, tengah kasak-kusuk lantaran keberadaan rancangan Undang-undang Anti Pembajakan Online yang kini tengah digodok di Amerika Serikat. Kedua aturan yang dimaksud adalah Stop Online Piracy Act (SOPA) dan Protect IP Act (PIPA).

Menurut advokat dari Sheyoputra Law Office, Donny A. Sheyoputra, kedua UU itu sejatinya sudah lama disiapkan. Hanya saja, baru ramai dibicarakan sekarang lantaran tengah dalam proses finalisasi. Toh, sejak proses awalnya yakni ketika masih disusun, yang menentang juga banyak.

“Intinya, itu adalah UU yang bertujuan untuk memperkecil peluang pembajakan terutama melalui sektor online atau internet. Masalahnya, sering kali pembajakan lewat internet kan gak disengaja terjadi. Itu membuat sebagian kalangan menentang. SOPA itu lebih ke arah internet piracy dan PIPA lebih sebagai kebijakan umum agar IP ditegakkan,” jelasnya.

Dilansir Venture Beat, SOPA dijabarkan nantinya memperbolehkan pemerintah AS dan perusahaan pemegang hak cipta untuk menargetkan situs asing alias dari luar AS yang dianggap melakukan pelanggaran, pembajakan atau pemalsuan kekayaan intelektual.

Contohnya, jika ada website yang dituding memiliki konten ilegal yang melanggar hak cipta (termasuk di antaranya lagu, gambar, video klip, dan lainnya), maka situs tersebut dapat diblokir oleh ISP di AS, tak dicantumkan dari mesin pencarian, dan bahkan dihadang untuk menjalankan bisnis online dengan penyedia jasa pembayaran seperti PayPal.

Tak pelak, melihat berbagai kemungkinan yang bisa dilakukannya, banyak pihak yang mengkhawatirkan implementasi dari UU ini. Sebab secara drastis akan mengubah cara internet beroperasi.

“Kalau terang-terangan jual produk bajakan, jelas cocok dipidana dengan itu. Tapi kalau diterapkan mentah-mentah, maka yang tidak sengaja melanggar pun bisa kena. Misalnya membuat tulisan tetapi lupa menulis sumber kutipannya. Itu bisa menakutkan sehingga Wikipedia termasuk yang protes,” imbuh Donny.

“Jadi yang dianggap berbahaya adalah peluang terjadinya penyalahgunaan UU itu terhadap mereka yang sebenarnya tidak sadar melakukan pelanggaran hak cipta karena tidak tahu,” lanjutnya.

Ditarik ke Indonesia

Lalu bagaimana dampaknya ke Indonesia? Menurut mantan Kepala Business Software Alliance (BSA) Indonesia ini, imbasnya kemungkinan cuma dirasakan secara tidak langsung. “Misalnya kalau Wikipedia tutup di sana (AS-red.), berarti kita di sini (Indonesia-red.) tidak bisa mengaksesnya kan?” papar Donny.

Ulah dari pemasang iklan yang menawarkan produk atau materi bajakan juga bisa menyeret pemilik situs. Dimana akhirnya penyedia space (pemilik situs) bisa ikut-ikutan dituduh membantu promosi iklan barang bajakan.

Nah, ini yang tidak adil. Padahal internet adalah dunia maya yang maju sangat pesat, sulit dibendung. Tetapi UU ini memudahkan orang jadi kesandung masalah hukum karena terlalu luas cakupannya,” Donny menjelaskan.

Sementara penggiat internet di Indonesia dinilai belum tentu bisa dipidana karena mereka berdomisili di Indonesia. Tetapi kalau mereka di AS dan melakukan pelanggaran hukum di sana, maka UU ini bisa menjerat mereka.

“Kalau ditinjau dari perbedaan sistem hukum kita dan AS, maka sebenarnya kita tidak terlalu terpengaruh dengan UU itu karena berlakunya lebih ke arah AS. Tetapi karena internet tidak ada batasnya, ini menjadi problem tersendiri,” pungkasnya.

Perdebatan soal SOPA dan PIPA sendiri di AS sana mengerucut pada dua kubu. Yakni para pendukung aturan ini yang datang dari kalangan industri hiburan dan Chamber Commerce AS. Mereka beragumen, pembajakan telah mengusik bisnis mereka sehingga perlu adanya UU semacam ini.

Sementara di sisi berlawanan ada penggiat layanan internet. Mulai dari Google, Wikipedia, WordPress, hingga Twitter yang dengan lantang menentang.

Ardhi Suryadhi – detikinet

Menyusul Wikipedia, WordPress Ikutan Blackout

New York – Aksi menentang pengesahan Undang-undang Anti Pembajakan yang tengah digodok Amerika Serikat (AS) terus berdatangan. Yang terbaru adalah penyedia layanan blog, WordPress, yang menggelar aksi blackout dengan mengubah halaman depan situsnya.

Ya, sama seperti situs lainnya, dua UU yang tengah disorot adalah Stop Online Piracy Act (SOPA) dan Protect IP Act (PIPA).

Aksi yang dilakukan WordPress adalah aksi kesekian setelah sebelumnya diketahui situs ensiklopedi Wikipedia turut ‘mematikan’ sementara layanannya.

SOPA maupun PIPA, secara umum, nantinya akan memberikan hak kepada pemerintah AS untuk menyensor situs asing secara sepihak. Pun juga untuk menindaklanjuti aksi pembajakan, SOPA juga memberikan pemegang hak cipta, hak melakukan upaya hukum melawan pemilik sebuah website dan operator jika ada kontennya yang melanggar hak cipta.

Beruntung sampai sejauh ini, situs besar yang bereaksi keras diketahui baru Wikipedia dan WordPress. Situs lainnya yakni Google, Facebook, Twitter dan Tumblr dilaporkan tidak ikut-ikutan melumpuhkan layanannya meski mereka juga tidak setuju UU itu.

Bahkan, dalam tweetnya CEO Twitter, Dick Costolo menyebut mogok yang dilakukan Wikipedia adalah aksi yang konyol, demikian dikutip detikINET dari Guardian, Rabu (18/1/2012).

 

Santi Dwi Jayanti – detikinet

%d blogger menyukai ini: