Onno Purbo dan Posisi Menkominfo


Jakarta – Onno W. Purbo jelas bukan sosok yang asing di dunia teknologi informasi Indonesia. Pria yang akrab disapa Kang Onno ini telah lama berkecimpung dalam pengembangan TI Tanah Air.

Saking populernya, bahkan tak sedikit yang menyuarakan Onno layak memegang jabatan Menkominfo. Namun apakah Onno mau? Jawabannya tidak!

“Malas, jadi menteri urusannya harus ngikutin partai, harus setoran dan sebagainya. Mendingan jadi rakyat, urusannya jelas,” tukasnya sambil tergelak kala ditemui di rumahnya di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Mantan Dosen Institut Teknologi Bandung ini memang memiliki rekam jejak yang cukup cemerlang dalam perkembangan TI di Indonesia. Ia menyumbangkan pemikiran dalam berbagai program seperti RT/RW Net, wajanbolic sampai yang terakhir Open BTS.

Ia terlibat pula dalam pembebasan frekuensi 2,4 GHz sehingga diizinkan Kominfo pada tahun 2005 untuk bebas digunakan oleh publik. Kata Onno, butuh waktu 12 tahun untuk memperjuangkannya. Perjuangan ini mendapat pengakuan di World Summit on Information Society (WSIS).

Apa kira-kira misi hidup Onno? Ia mengungkapkan bahwa hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Tidak perlu jabatan atau harta yang melimpah, yang penting berguna bagi sesama.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, soal kekayaan atau jadi menteri tidak ada urusan. Pokoknya selama bermanfaat, dia semakin tinggi. Kalau ilmunya tinggi tapi tidak bermanfaat, maka nilainya turun,” tutur Onno.

‘Nilai seseorang tidak di tentukan oleh harta, kekayaan, pangkat, jabatan, gelar, tapi oleh berapa besar, banyak umat yang mendapat manfaat’. Itulah prinsip hidup Onno.

Intinya, bapak yang tengah gemar gowes ini ingin bermanfaat dengan memintarkan orang. Tak pelak, misi hidup yang dipegangnya itu pun sering membuat Onno untuk berkeliling ke berbagai daerah dan negara untuk berbagi ilmu IT.

“Masyarakat kita sebenarnya sudah pintar-pintar, tapi harus dibikin lebih pintar lagi,” ucap lelaki lulusan strata 3 dari Waterloo University di Kanada ini.

Onno pun melihat pemerintah dalam hal ini Kominfo yang membidangi ICT belum berbuat maksimal. Pekerjaan mereka dianggap baru sebatas proyek pengadaan barang, namun bukan dalam pemberdayaan masyarakat. Misalnya dalam proyek internet masuk desa, fasilitas barangnya memang ada tapi masyarakat kurang diberdayakan untuk memakainya.

“Kesalahan fatal Kominfo, urusannya pengadaan dan regulasi, tapi pemberdayaan masyarakat kurang sekali. Pola pikirnya jangan melihat bangsa ini sebagai konsumen atau user. Tolong dilihat sebagai manusia. Manusia perlu dipinterin, itu yang akan mengubah bangsa ini,” tegasnya.

Sampai saat ini, Onno aktif berkeliling untuk menyebar ilmu. Secara rutin, ia diundang pula untuk mengajar ke berbagai negara seperti Thailand, Kamboja, Vietnam sampai Myanmar. Ia juga giat aktif menulis buku. Buku terakhirnya yang sedang digarap adalah tentang teknologi Open BTS.

“Sekitar seratus halaman saja, kalau tebal-tebal nanti harganya kemahalan. Jadi harus disiasatin,” pungkasnya

Fino Yurio Kristo – detikinet.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: