Cerpen : Sahabat Pena


Adakah yang penting jika kukatakan namaku Unyeng Turu Tukuy? Lebih keren lagi Dra, Ir Unyeng Turu Tukuy, SE, MM? Jika orang tak memujiku, lebih baik kukatakan wajahku cantik. Tak ada cacat pada badanku. Hidungku bagus, sedikit mancung. Jari-jemariku lengkap. Bibirku sensual. Kuku-kukuku tak ada yang rusak. Gigiku utuh, dan mulutku tak bau. Karena gelarku lebih dari satu, tentu aku cukup cerdas.

Tapi adakah gunanya itu kusebut di tengah dunia modern sekarang ini? Di mana keburukan wajah dapat diubah, gelar dapat dibeli, hanya nasib dan takdir yang tak bisa diciptakan? Jika manusia saja bisa dikloning, jabatan bisa dibeli, apalagi mobil, rumah, tanah, dan hutan belantara? Namun, kata orang, meskipun perkawinan bisa dibeli atau dipaksakan, tapi cinta?

Sedih aku kalau memikirkan cinta!

Jika aku berhasil meraih sejumlah gelar dengan mudah, tapi cinta? Sejak aku gagal meraih cintaku saat di SMA, dan kemudian gagal lagi saat aku mulai kuliah, aku merasa takdir tak berpihak pada nasib cintaku.

Bayangkan, empat kampus telah meluluskan aku sebagai sarjana, tapi cintaku? Segala nasihat Ibu mengenai kedudukan perempuan telah aku praktikkan di dalam percintaan. Tapi hasilnya tetap nihil.

Bukankah aku tak mengharamkan ciuman? Bahkan cupangan? Berpelukan rapat dengan hangat? Jangankan hanya berpegangan tangan? Hanya kegadisan yang aku rapatkan, jangan sampai bobol. Seperti temanku Nola yang harus menanggung aib karena melahirkan bayi tanpa suami.

Aku pernah ikut serta dalam kontak jodoh. Tapi tak pernah nyangkut pada yang diinginkan. Kalau bukan wajah dan watak, ya, soal kepercayaan. Aku tak mau menggadaikan keyakinanku hanya demi sebuah perkawinan. Itu prinsip.

Akibatnya sangat mendebarkan.

Kini usiaku sangat rawan untuk suatu perkawinan. Coba, pada tahun ini usiaku telah menginjak tiga puluh sembilan tahun. Tahun depan akan genap empat puluh.

Meskipun aku belum menopause, tapi, perempuan sepertiku yang belum pernah berhubungan dengan lelaki dan belum melahirkan, akan mengalami kesulitan untuk melahirkan secara normal. Lagi pula, menurut ahli medik, perkawinan dalam usia tua akan memiliki risiko besar akan melahirkan anak cacat.

Adakah gunanya aku melahirkan anak cacat? Tapi, jika tak melahirkan, siapakah yang melanjutkan generasiku? Aku hanya satu-satunya anak ayah ibuku. Apa gunanya titelku berderet dan harta yang kutimbun, kalau tak ada yang merasa bangga menikmati hasilnya? Bukankah prakiraan dokter berdasarkan suatu sampling? Jadi probabilitasnya masih memungkinkan ada penyimpangan?

Meskipun awalnya aku meremehkan, tapi akhirnya aku ikuti juga saran Ibu.

“Ibu juga dulu berhasil bertemu dengan ayahmu karena rubrik sahabat pena? Mengapa tak kau coba?”

“Sekali aku mencoba mengisi dengan nama Nina, e, yang melamarku pacarku yang putus di SMA. Sekali aku menggunakan nama Tyas, e, yang datang mantan pacarku di universitas. Setelah aku bekerja, aku gunakan nama Tina, yang datang mantan pacarku yang itu-itu juga. Aneh, tiga kali aku bertemu dengan lelaki yang sama. Bagaimana mungkin aku harus kembali bertemu dengan lelaki yang tak punya nyali. Jika aku melahirkan anak dari lelaki seperti itu, anakku pasti akan menjadi banci!”

“Itu memang aneh, Nyeng. Tapi kau tak usah putus asa. Bahkan harus panjang sabar. Bukankah segalanya ditentukan oleh kegigihan dan takdir,” ujar ibuku seperti nasihat para santo dan biarawati yang bertarak dengan libido.

“Bukankah jodoh yang didapat dengan susah payah umumnya akan langgeng abadi?”

Tak kutahu apakah ya atau tidak. Aku tak punya alat ukur, karena aku belum punya pengalaman mengenai perkawinan. Orangtuaku sendiri, meskipun mendapatkan jodoh mereka dari sahabat pena, tak ada sesuatu yang bisa kuambil sebagai pegangan.

Bagiku, perkawinan mereka sangat membosankan. Adakah tujuan sebuah perkawinan hanya melahirkan anak, makan-minum, berpakaian, beli rumah, mobil, tamasya, lalu mati?

Kuingin perkawinan lebih dari itu.

Tapi lebihnya di mana?

Dapat jodoh saja belum.

Ada sepuluh kontak jodoh dan biro jodoh telah aku coba, namun hasilnya nihil. Aku rasanya kecewa sendiri, mengapa aku jadi demikian berat jodoh? Ada temanku yang hanya sekali mengirimkan data dirinya di kontak jodoh langsung diterkam. Ia kini telah melahirkan anak lelaki.

Tapi mengapa aku begitu susah? Apakah yang kurang padaku? Pada wajah? Bau badan? Uang? Titel dan harta? Rasanya tak ada yang kurang. Kalau soal bau badan, aku sudah gunakan ramuan tradisional, di samping haruman wangi yang dapat dibeli di toko-toko kosmetika? Soal wajah? Sudah kukatakan bahwa aku cantik. Dulu aku dikatakan kembang kampus. Setelah aku bekerja aku dikatakan kembang kantor. Tapi, seiring dengan usia, luruh begitu sajakah kembang itu? Tanpa ada kumbang dan madu yang menyeri?

Ketuaan memang musuh kecantikan. Bukan hanya musuh kecantikan atau kegantengan, tapi ketuaan adalah musuh kehidupan. Bukankah ketuaan bermakna tanda suatu yang maya? Suatu yang tak kekal?

Usia dan badan memang tak kekal tapi roh itu kekal. Karena badan ditempa dari tanah tapi napas hidup itu dari Tuhan. Tuhan juga yang memberi jodoh?

Biarlah aku daftarkan namaku di ruang sahabat pena. Untuk iseng mencari teman korespondensi merintang waktu. Mungkin bisa menjadi tempat untuk berlagak hebat di dalam surat.

Atau, kalau memang ada jodoh, sahabat pena bisa menghasilkan pernikahan. Bukankah ayah ibuku bersatu karena sahabat pena? Dari korespondensi biasa, akhirnya terjalin cinta. Dari cinta terikat sebuah pernikahan. Dari situ lahirlah aku.

Mungkinkah aku juga begitu? Kata orang ada tindakan orangtua yang menurun kepada anak-anaknya?

“Coba,” kata kawanku Sinaryu Indiah, “dari kakek, anak, dari Hemingway sama-sama bunuh diri. Jadi ada tindakan orangtua yang menurun kepada anak cucunya. Semacam itulah marabencana!”

“Tapi aku tak mau bunuh diri,” kataku pada Sinaryu. “Mati itu ada waktu dan tempatnya. Aku justru mau mencari jodoh untuk hidup terhormat. Dengan sahabat pena, aku ada kemungkinan akan menuai bahagia.”

Saat namaku terpampang di ruang sahabat pena, aku tak lagi berdebar-debar. Dulu, saat pertama kali aku memasang namaku, aku merasa seperti berada di awang-awang. Seperti saat aku menghadapi lelaki dalam kontak jodoh. Namun semuanya seperti dihapus badai kejahatan, tak satu pun yang membawaku ke pantai bahagia. Bagaimana mungkin aku selalu menemukan lelaki yang sama?

Kali ini ada semacam kenekatan. Jika saja ada yang melayangkan surat, aku harus menyambutnya dengan rayuan. Tak mengapa perempuan merayu Ielaki? Bukankah bisa dibuat janji untuk kencan.

Bertemu di mana saja di tempat yang diinginkan. Bagiku sendiri semuanya tak ada masalah. Uangku cukup untuk membiayai hidupku dan kesenanganku. Aku bukan mencari lelaki kaya, tapi aku mencari teman hidup, lelaki yang mampu menanamkan benih yang menumbuhkan kehidupan.

Sahabat pena, bukankah juga bermakna sahabat kehidupan? Banyak wujud kini untuk melakukan sahabat pena. Medianya canggih. Ada internet. Ada ORARI.

Tapi aku suka pada kontak tradisional, meskipun aku tulis surat suratku dengan komputer, untuk mempercepat pekerjaan, bukan dengan tulisan tangan, seperti pertama dulu aku melakukan korespondensi.

“Jadi kau serius,” lelaki sahabat penaku yang ketujuh puluh lima bertanya. “Kalau kau tak keberatan kita bisa bertemu di Taman Utara. ”

“Taman Utara?” aku membalas surat lelaki itu. “Kapan waktu yang kau inginkan?”

“Itu terserah kau Nyeng. Di mana waktumu lega dari pekerjaan. Jangan sampai mengganggu hingga kau dipecat dari jabatan.”

“Kau juga, Ram,” tulisku di surat yang terakhir. “Jangan sampai kau di-PHK gara-gara cinta.”

“Kalau itu, gampang,” tulis lelaki itu lagi. “Sekarang lowongan kerja begitu banyak. Jika pun dipecat dan belum mendapat pekerjaan baru, aku bisa kerja sendiri. Hasilnya, tak kalah dari hasil empat titel sarjana.”

“Kau jangan berlelucon, ” tulisku Iagi, “menyindir titelku. Aku ini lulusan dari perguruan tinggi bergengsi. Bukan membeli gelar di pinggir jalan. Jangan kau samakan aku dengan si Federico Folan Usan atau temanmu si Juling Mata Satu?”

“Aku katakan tentang diriku, Nyeng. Bukan menyindir siapa pun. Lupakan saja si Anu dan si Ini, jadikah kita bertemu di Taman Utara? Tanggal berapa? Hari apa? Pukul berapa?”

” Aku maunya tanggal lima bulan enam. Kau mau tanggal berapa?”

“Aku setuju tanggal lima bulan enam. Pukul lima lewat enam menit. Harinya Jumat keramat. Kau menandai dirimu dengan ciri apa? Kalau aku? Aku pakai baju putih dasi hitam celana hitam. Tak ada kacamata. Rambutku masih hitam, belum satu pun uban tumbuh. Sepatuku hitam mengilat, bukan karena semir, tapi karena baru. Kau setuju?”

“Aku setuju,” tulisku lagi. “Aku gunakan gaun putih terusan dengan sepatu putih. Mataku tak juling sehingga aku tak gunakan kacamata. Bibirku merah dengan tanda lipstik dari Paris. Di tangan kiriku jam bukan emas tapi indah. Antingku kecil saja, dan rambutku kututupi kerudung tipis tak berwarna menyala. Aku tak mau ditandai mawar atau melati. Itu kuno. Di dadaku ada emblem rencong Aceh!”

Kurasa dadaku makin berdebar-debar saat waktunya tiba. Taman Utara bukanlah berada di kota tempat tinggalku di Banjarmasin tapi di Surabaya. Sementara Ramlan tinggal di Jakarta. Kami tak pernah bersepakat bertemu di Juanda, tapi akan bertemu di Taman Utara.

Adakah ini suatu kegilaan? Akan bertemu untuk sesuatu yang musykil? Aku harus membuang biaya besar untuk pesawat dan hotel. Belum lagi taksi dan makan? Bukankah suatu kegilaan yang luar biasa.

Kalau saja Ramlan teroris? Bukankah selama ini teror selalu mengancam di mana-mana. Tapi apa yang akan dibom Ramlan padaku? Kenal saja belum, baru berkata-kata lewat surat. Dan aku?

Rasanya inilah kesempatan terakhirku untuk menemukan jodoh. Jika lepas juga, ya, nasib memang tak mau berpihak pada kebaikan. Biarlah aku terus menjadi perawan tua. Aku akan mengembangkan karierku di dunia pendidikan.

Namaku akan lebih keren lagi dengan susunan title Profesor Doktor Ir. Unyeng Turu Tukuy, SE, MM, MBA. Siapa yang tahu bahwa aku merana soal cinta? Bahwa aku gagal membangun kehidupan sebagai istri, karena aku tak menemukan lelaki sebagai suami.

Di SMA aku mengenal Munsyi. Tapi cintaku itu hilang begitu saja tak ada kesesuaian paham. Anehnya di perguruan tinggi, aku mengenal Amrullah, namun ternyata sahabat penaku itu juga Munsyi. Edan! Saat aku sudah bekerja, aku mengenal Maksyum, tapi lagi-lagi Maksyum itu juga Munsyi.

Adakah dunia ini sudah gila? Ataukah aku yang sudah tidak waras?

Aku duduk di Taman Utara pada bangku arah tenggara. Udara pukul lima terasa nyaman karena angin bertiup perlahan. Ada beberapa pasang orang duduk di bangku-bangku yang sunyi, tapi tak kulihat ada lelaki yang duduk sendiri dengan ciri-ciri yang dikatakan Ramlan. Apakah ia akan mengecohku? Memperdayai seorang wanita yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun?

Hatiku rasanya mulai gusar. Manusia selalu tak bisa dipercaya.

“Doktoranda Insinyur Unyeng Turu Tukuy Sarjana Ekonomi, Magister Manajemen? ” suara itu mengalir ke dalam telingaku tepat pukul lima lewat enam menit.

Di depanku ternyata berdiri Munsyi.

Gila!

“Bukankah kau Nina? Tyas? Tina? Dan kini Unyeng Turu Tukuy?” suara itu makin menyerbu ke dalam telingaku. Mataku hampir lamur karena kepalaku pusing. Kegilaan macam apa yang terjadi atas diriku kini?

“Kau juga Munsyi? Amrullah? Maksyum? Dan terakhir ini Ramlan?”

Angin isis. Udara sejuk dalam sawang yang senyap bersama teriakan elang di ujung cakrawala.

“Nasib dan jodoh kita Nina. Empat kali bertemu karena sahabat pena.”

“Namaku sudah Unyeng Turu Tukuy, Syi. Sudah diubah dengan akta kelahiran.”

“Namamu tak penting. Yang penting kau sendiri. Seluruhmu. Kau siap menikah?”

“Aku tiga sembilan. Iebih dari matang. Kau? ”

Begitu lelap aku tertidur. Sejak pagi hingga siang aku bekerja menata rumah. Hanya pada Minggu aku ada waktu. Aku tergeregap bangun seperti aku bermimpi. Dari ruang tengah mengalir lagu klasik. Apa Beethoven apa Mozart? Paganini atau Strauss? Guru les Indiah Sinaryuni datang lagi? Dulu sudah aku hentikan karena kulihat pemuda itu mulai menyukai lndiah, bukan karena ia guru musik. Baru dua belas tahun usia Indiah, satu-satunya anakku. Lahir biasa, tidak Iewat operasi caesar. Tak sedikit pun ia cacat. Kulahirkan saat usiaku kurang sedikit empat satu.

Belum puiangkah Munsyi dari Aceh? Jakarta seperti sediakala meskipun ada pengumuman siaga satu. Bagiku, siagaku adalah Indiah. Jangan sampai ia melahirkan seperti aku pada usia hampir empat satu. Jangan juga melahirkan pada usia tiga belas. Lagu klasik itu mengalun dengan indah. Ada duet yang serasi seperti suara penyanyi di televisi. Indiah mulai menyanyi? Bukankah olah vokalnya sudah selesai di Bina Vokalia? Lalu musiknya?

Duet “Sahabat Pena” terus mengalir dalam udara Jakarta. “Sahabat pena datanglah bayang-bayangmu. Sahabat pena aku cinta padamu.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: